Nasional – Abu Nawas selalu dikisahkan dengan hal-hal yang cerdik. Sosok Abu Nawas digambarkan orang yang punya banyak akal.
Karenanya jangan pernah berniat berbuat curang kepada Abu Nawas, alih-alih karena kecerdikannya Abu Nawas lah yang akan menang.
Seperti cerita berikut, saat Abu Nawas mengikuti sang raja berburu. Begini ceritanya,
Di dalam kerajaan seluruh penduduk maupun para pejabat kerajaan sudah mengetahui jika Abu Nawas adalah sosok yang cerdik. Dia punya banyak akal.
Cemburu dengan berbagai cerita yang mengagumi Abu Nawas itu, akhirnya sang raja punya niat buruk. Dia berniat berbuat curang kepada Abu Nawas dan mempermalukannya di hadapan banyak orang.
Siasatpun disusun. Raja kemudian memanggil pengawal agar menemui Abu Nawas untuk menghadap raja. Dengan cepat si pengawal mendatangi Abu Nawas di rumahnya.
“Wahai Abu Nawas, raja memanggil untuk menghadap,” kata pengawal saat bertemu Abu Nawas.
Karena raja adalah penguasa tertinggi, tidak ada satupun yang berani. Apa yang dikatakan raja harus segera dilaksanakan.
Tanpa mengulur waktu, Abu Nawas pun berangkat menghadap raja didampingi pengawal tadi. Sampai di kerajaan, ternyata raja sudah menunggu Abu Nawas.
“Abu Nawas, besok saya dan beberapa pengawal akan berangkat berburu ke hutan. Saya ingin kamu ikut serta bersama kami,” kata raja.
Mendengar ucapan raja, Abu Nawas langsung curiga. Apa sebab kali ini raja mengajak dirinya berburu. Abu Nawas yakin ada sesuatu yang buruk akan dijumpainya. Namun untuk menolak permintaan raja, tentu saja tidak mungkin.
“Baiklah paduka, saya akan ikut bersama rombongan paduka,” jawab Abu Nawas.
Abu Nawas kemudian pulang ke rumah dengan kebimbangannya. Saat malam, dia tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan menimpanya. Lama dia mencoba untuk tidur, namun mata tetap tidak terpejam.
Akhirnya pagi pun tiba. Masih dengan perasaan yang risau, Abu Nawas langsung bersiap dan datang ke kerajaan. Ternyata di kerajaan semuanya sudah siap. Termasuk raja sudah duduk di atas kuda tunggangannya.
Ada satu kuda yang belum ada penunggangnya. Ternyata kuda itu disiapkan untuk Abu Nawas. Mereka kemudian berangkat, berjalan santai menuju hutan belantara. Dalam perjalanan yang santai itu semuanya masih baik-baik saja. Abu Nawas pun tidak tahu harus berbuat apa, selain duduk di atas kuda mengikuti rombongan.
Belum lama mereka berjalan, ternyata cuaca menjadi mendung. Saat itu lah sang raja menjalankan niat buruknya. Dia kemudian memanggil Abu Nawas yang ada di barisan belakang rombongan.
“Abu Nawas, sekarang cuacanya mendung. Jadi kita berpencar saja. Kita bertemu lagi di tempat peristirahatan saya saat makan siang. Karena sebentar lagi akan turun hujan, silakan masing-masing kita untuk menghindari hujan agar pakaian tidak basah. Saya mau saat makan siang nanti, tidak ada pakaian kita yang basah,” kata raja.
Sadar raja sudah memasang perangkapnya, Abu Nawas pun langsung putar otak. “Baik lah paduka, saya akan tiba di tempat peristirahatan paduka saat makan siang,” ujar Abu Nawas.
Setelah Abu Nawas memberikan jawaban, raja dan pengawalnya langsung berangkat. Mereka memacu kudanya agara berlari kencang. Namun karena cuaca sudah terlanjur mendung, tidak lama rombongan raja berangkat, hujan turun begitu deras.
Sementara Abu Nawas juga berusaha menghindari hujan. Namun saat itu lah Abu Nawas tahu akal bulus yang dilakukan sang raja. Ternyata kuda yang diberikan kepada Abu Nawas adalah kuda yang malas berlari.
Walaupun hujan deras dan Abu Nawas menjerit meminta kudanya berlari, namun kuda itu tetap saja berjalan santai.
Beberapa saat kemudian rombongan raja sudah tiba di tempat peristirahatan mereka. Walaupun kuda mereka berlari kencang, namun pakaian mereka tetap basah. Tidak lama kemudian tiba lah Abu Nawas.
Semuanya menjadi terkejut. Terutama raja. Karena mereka melihat pakaian Abu Nawas tidak basah. Padahal mereka semua tahu jika kuda yang ditunggangi Abu Nawas adalah kuda yang malas berlari.
Mereka menjadi bertanya-tanya, kenapa pakaian Abu Nawas tidak basah? Sementara pakaian mereka basah semua.
Keesokannya saat akan mulai berburu, raja mengajak Abu Nawas bertukar kuda. Abu Nawas menunggangi raja kuda, sedangkan raja menunggangi kuda Abu Nawas. Kondisi cuaca pun tetap sama, mendung.
Perjanjian mereka tetap sama, bertemu di tempat peristirahatan raja menjelang makan siang. Mereka kemudian berangkat berburu, berpencar. Raja bersama rombongannya sedangkan Abu Nawas berangkat berburu seorang diri.
Seperti cerita hari sebelumnya, hujan pun turun begitu deras. Celaka lah raja, karena kuda yang ditungganginya malas berlari. Menjelang makan siang, mereka pun kembali ke tempat isitirahat.
Saat raja dan rombongan sampai, ternyata Abu Nawas sudah tiba. Lagi-lagi pakaiannya tidak basah. Sedangkan raja beserta rombongan basah semua.
Raja kembali dibuat penasaran. Kemarin diberi kuda lambat, pakaian Abu Nawas tidak basah. Hari ini diberi kuda yang berlari kencang, pakaian Abu Nawas kembali tidak basah.
Raja tidak kuasa lagi menahan rasa ingin tahunya. Akhirnya dia pun bertanya kepada Abu Nawas.
“Abu Nawas kenapa pakaian kamu tidak basah. Padahal tadi hujan deras. Begitu juga kemarin, saat hujan deras pakaian kamu tidak basah. Sementara kuda yang kamu tunggangi kemarin adalah kuda yang malas berlari,” tanya raja.
“Mudah saja caranya yang mulia,” jawab Abu Nawas.
“Kemarin waktu saya menunggang kuda yang lambat, saat turun hujan saya melepas pakaian saya. Lalu saya duduki pakaian saya itu sampai hujan reda. Sedangkan hari ini, karena saya menunggangi kuda paduka, saya bisa memacu kudanya begitu cepat berlari, jadi saya sudah tiba di sini sebelum hujan turun,” jela Abu Nawas.
Mendengar jawaban Abu Nawas itu, raja pun menjadi jengkel sendiri. Dia tidak terpikir cara Abu Nawas menghindari pakaian basah saat menunggang kuda lambat. Sekali lagi raja terkena batunya, rencana semula ingin mempermalukan Abu Nawas malah raja sendiri yang menjadi malu.
Itu tadi cerita tentang kecerdikan Abu Nawas. Pesan yang tidak ambil, jangan pernah berniat buruk kepada seseorang, karena bisa jadi kita lah yang akan menjadi korban karena niat buruk itu.
Rendra Aditya

















