Nasional – Momen langka kembali terjadi, Gerhana Matahari Sebagian akan berlangsung pada 21 hingga 22 September 2025 mendatang.
Peristiwa ini digadang-gadang bakal menjadi tontonan langka bagi jutaan orang di dunia.
Sayangnya, masyarakat Indonesia harus rela gigit jari karena sama sekali tidak berada dalam jalur pengamatan.
Apa Itu Gerhana Matahari Sebagian?
Gerhana Matahari Sebagian terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari pada fase bulan baru.
Namun, posisi Bulan kali ini tidak menutupi seluruh piringan Matahari, melainkan hanya sebagian. Hasilnya, Matahari akan tampak seperti “tergigit” dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Fenomena ini tentu berbeda dengan Gerhana Matahari Total yang menampilkan pmanadangan dramatis di mana seluruh cahaya Mataharitertutup Bulan, membuat langit berubah gelap seolah-olah malam datang lebih cepat.
Jalur Gerhana, Siapa yang Beruntung Menyaksikan?
Mengutip dari Space.com, peristiwa kali ini akan bisa dinikmati oleh sekitar 16 juta orang di beberapa belahan dunia.
Mereka yang beruntung berada di wilayah Pasifik, sebagian Australia, serta kawasan Antartika akan mendapat kesempatan langka untuk melihat secara langsung.
Gerhana diperkirakan dimulai pada pukul 13.29 ET (17.29 GMT) tanggal 21 September dan mencapai puncaknya sekitar 15.41 ET (19.41 GMT).
Pada fase puncak, beberapa wilayah di Selandia Baru bagian selatan dan Antartika bahkan akan merasakan cakupan gerhana lebih dari 70 persen dari piringan Matahari.
Namun, sebagian besar wilayah dunia, termasuk Indonesia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan, tidak akan bisa melihat peristiwa ini karena tidak berada dalam jalur penumbra Bulan.
Mengapa Tidak Semua Bisa Melihat?
Fenomena gerhana tidak bisa dilihat secara merata oleh semua penduduk Bumi. Hal ini bergantung pada posisi bayangan Bulan yang jatuh ke permukaan Bumi. Ada dua jenis bayangan utama:
1. Umbra – bayangan inti Bulan yang gelap total, biasanya menghasilkan Gerhana Matahari Total.
2. Penumbra – bayangan sebagian, yang membuat Matahari tampak tertutup hanya sebagian.
Dalam kasus gerhana kali ini, umbra Bulan tidak mencapai Bumi, sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian di wilayah tertentu.
Observatorium Bosscha di Lembang juga menegaskan bahwa hanya masyarakat yang berada dalam jalur penumbra yang bisa melihat fenomena ini.
Sedangkan yang berada di luar jalur, seperti Indonesia, tidak akan mendapat kesempatan menyaksikan sama sekali.
Jangan Lihat Langsung Tanpa Alat Khusus
Momen gerhana memang menarik, tetapi penting diingat bahwa melihat langsung ke arah Matahari tanpa pelindung sangat berbahaya.
Radiasi sinar Matahari dapat merusak retina mata secara permanen. Jika berada di wilayah yang dapat menyaksikan gerhana, masyarakat diimbau menggunakan kacamata khusus gerhana atau filter Matahari bersertifikasi.
Alternatif lain adalah menggunakan metode proyeksi lubang jarum untuk melihat bayangan Matahari secara tidak langsung.
Indonesia Harus Menunggu Hingga 2026
Bagi masyarakat Indonesia yang penasaran, jangan berkecil hati. Meski tahun ini terlewat, ada kabar gembira Gerhana Matahari Total akan bisa disaksikan di Indonesia pada 12 Agustus 2026 mendatang.
Fenomena tersebut dipastikan jauh lebih dramatis dan langka karena seluruh piringan Matahari akan tertutup Bulan.
Fenomena Gerhana Matahari Sebagian 21–22 September 2025 akan menjadi tontonan spektakuler bagi sebagian kecil wilayah dunia, terutama Pasifik, Australia bagian tertentu, dan Antartika.
Sayangnya, Indonesia tidak termasuk dalam jalur pengamatan sehingga masyarakat Tanah Air hanya bisa mengikuti kabar dan dokumentasi dari luar negeri.
Bagi pencinta astronomi di Indonesia, sabar sejenaktahun depan giliran kita menyaksikan gerhana total ini!
Sheila Silvina

















