Nasional – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif pemerintah pusat yang bertujuan menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi anak-anak sekolah dasar hingga menengah.
Selain mendukung pemenuhan gizi anak, program ini juga membuka peluang kerja bagi masyarakat. Para pekerja di dapur MBG umumnya bekerja sekitar delapan jam per hari dengan sistem shift.
Ramainya pembahasan seputar program ini turut menimbulkan pertanyaan dari publik mengenai besaran upah yang diterima para karyawan setiap bulannya.
Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, gaji rata-rata pekerja dapur MBG mencapai sekitar Rp 2 juta per bulan. Jumlah ini dianggap signifikan, terutama bagi ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Dengan adanya MBG, kini banyak ibu rumah tangga bisa membawa pulang gaji Rp 2 juta setiap bulannya,” jelas Dadan.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu sumber penghasilan rumah tangga.
Terkait potongan iuran BPJS Ketenagakerjaan, Dadan menegaskan bahwa gaji pekerja dapur MBG tidak dipotong. Pemerintah menanggung penuh premi BPJS, sehingga para pekerja tetap terlindungi secara sosial.
“Kami tidak mengurangi gaji mereka. Justru pemerintah yang membayarkan preminya, sehingga seluruh pekerja MBG tetap terlindungi secara sosial,” ujarnya.
Dengan skema ini, setiap karyawan dapur MBG menerima gaji penuh sekaligus mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Perlindungan Sosial untuk Pekerja MBG
Meski gaji tidak dipotong, seluruh pekerja dapur MBG otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Pemerintah menanggung seluruh premi sehingga pekerja dapat menikmati hak perlindungan tanpa mengurangi pendapatan bulanan.
Perlindungan ini mencakup:
– Jaminan Hari Tua (JHT)
– Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
– Jaminan Kematian (JKM)
– Jaminan Pensiun (JP) sesuai ketentuan
Kebijakan ini sejalan dengan misi pemerintah memperluas cakupan perlindungan sosial, khususnya bagi pekerja sektor informal yang sebelumnya sulit mengakses BPJS.
Dampak Sosial-Ekonomi Program MBG
Selain memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah, kehadiran program MBG membawa dampak ganda bagi masyarakat, berikut ini diantarnya:
1. Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga
Dengan adanya program MBG, mayoritas tenaga dapur diambil dari kalangan ibu rumah tangga yang berusia 40–45 tahun. Dengan gaji Rp 2 juta per bulan, mereka kini memiliki penghasilan tetap yang dapat membantu perekonomian keluarga.
2. Lapangan Kerja Baru
Dampak positif dari program MBG selanjutnya adalah membuka peluang kerja bagi puluhan ribu orang di seluruh Indonesia, mulai dari tenaga dapur, logistik, distribusi, hingga penyedia bahan makanan lokal.
3. Peningkatan Kesehatan dan Produktivitas
Selain itu, program ini juga mendukung tumbuh kembang anak sekolah dengan makanan bergizi. Dalam jangka panjang, kualitas kesehatan dan produktivitas generasi muda Indonesia diharapkan meningkat.
Putri Nurhidayati

















