Nasional – Menjadi seorang pejabat bukan berarti bisa berbuat semaunya. Seorang pejabat bukan untuk dilayani namun menjadi pelayan masyarakat.
Meski demikian cukup sering kita menemui pejabat yang berbuat semena-mena, memanfaatkan jabatannya.
Kejadian seperti ini juga ada dalam serial cerita kecerdikan Abu Nawas. Berikut ini ceritanya
Awal mula ada seorang pemuda bermimpi menikahi anak gadis hakim istana. Pemuda itu bermimpi memberikan seluruh hartanya sebagai maharnya.
Mimpi ini kemudian diceritakan pemuda itu kepada sahabat dan orang dekatnya. Namun siapa mengira cerita mimpi tersebut terus tersebar hingga akhirnya sampai ke telinga sang hakim.
Marah karena anaknya menikah dengan seorang pemuda biasa, walaupun itu hanya dalam mimpi, akhirnya sang hakim menemui pemuda tersebut.
“Benarkah kau bermimpi menikah dengan putriku?” tanya Hakim.
“Iya benar, bahkan aku bermimpi memberikan semua hartaku sebagai maharnya,” balas pemuda itu.
“Aku ke sini untuk mengambil mahar itu. Sekarang kau pergilah dari rumah ini,” seru Hakim.
Pemuda itu sangat sedih. Ia tak bisa melawan seorang hakim. Pemuda itu kini menjadi seorang gelandangan. Kemudian ia bertemu dengan perempuan tua yang miskin. Pemuda itu lalu menceritakan masalahnya.
“Sekarang aku menjadi gelandangan karena mimpi itu,” ujar si Pemuda.
“Aku akan membantumu mengembalikan hartamu. Hakim istana sudah berbuat semena-mena. Ia harus diberi pelajaran,” ujar perempuan tua itu.
Perempuan tua itu kemudian mengajak sang pemuda ke rumah Abu Nawas. Ia ingin meminta nasihat dari Abu Nawas, karena semua orang tahu kecerdikan Abu Nawas.
“Abu Nawas pasti bisa menyelesaikan masalahmu,” ujar perempuan tua itu.
Sampailah mereka di rumah Abu Nawas. Pemuda itu lalu menceritakan masalahnya. Abu Nawas berpikir sejenak dan langsung mendapatkan ide.
“Besok pagi kalian ke sini lagi. Bawalah peralatan seperti linggis, batu, dan tongkat besi,” ucap Abu Nawas.
“Untuk apa semua alat itu?,” tanya pemuda itu.
“Kau akan tahu besok pagi. Ajaklah semua temanmu juga,” pinta Abu Nawas.
Pemuda itu mengangguk setuju. Ia akan menuruti apa yang diperintahkan Abu Nawas. Keesokan harinya, pemuda itu datang bersama dengan teman-temannya. Mereka membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
“Apa yang harus kami lakukan dengan peralatan ini?” tanya pemuda itu.
Semua pergilah ke rumah hakim istana. Hancurkan rumahnya sampai tak ada yang tersisa,” ucap Abu Nawas.
“Tapi bagaimana jika hakim istana marah?” balas pemuda itu.
“Katakan aku yang menyuruh kalian menghancurkan rumahnya,” kata Abu Nawas.
Mereka pun pergi ke rumah hakim istana. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menghancurkan rumah hakim istana.
Rumah hakim sudah hampir hancur dan si Pemuda bersama teman-temannya terus saja menghancurkannya. Penduduk yang melihatnya tak dapat menghentikan semua itu.
Hakim yang sedang tertidur pun bangun. Ia baru menyadari sebagian rumahnya sudah hancur. “Hey, apa yang kalian lakukan dengan rumahku?” teriak Hakim istana, marah-marah.
“Kami sedang menghancurkan rumahmu. Apa kau tak melihatnya?” balas pemuda itu.
“Kalian bisa saya hukum! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?” tanya Hakim Istana.
Pemuda itu lalu memberi tahu si Hakim bahwa yang menyuruh mereka adalah Abu Nawas. Tentu saja Hakim jadi sangat kesal kepada Abu Nawas. Ia pun langsung ke istana untuk menemui Raja.
“Aku akan melaporkannya kepada Raja supaya Abu Nawas mendapat hukuman,” dengus Hakim istana.
Sesampainya di istana, si Hakim menyampaikan apa yang terjadi dengannya kepada Raja. “Cepat panggil Abu Nawas ke sini.” perintah Raja.
Beberapa prajurit pergi ke rumah Abu Nawas. Mereka menangkap Abu Nawas dan membawanya ke istana. Abu Nawas sudah tahu bahwa hal itu pasti akan terjadi.
“Hey Abu Nawas! Apa benar kau yang menyuruh para pemuda itu untuk merusak rumah Hakim Istana?” tanya Raja, penasaran.
“Benar Raja. Semalam aku bermimpi bahwa Hakim Istana memintaku untuk menghancurkan rumahnya. Ia berkata hendak membangun rumah baru yang lebih megah,” jawab Abu Nawas.
Raja heran mendengar jawaban Abu Nawas. Mimpi adalah bunga tidur, tapi kenapa dia melaksanakannya dalam kehidupan nyata?
“Kamu sungguh salah besar, Abu Nawas,” ujar Raja.
“Bukankah Hakim istana yang membuat peraturan seperti itu?” ucap Abu Nawas.
Ia lalu menyampaikan apa yang telah dilakukan Hakim istana kepada si Pemuda. Hakim Istana telah merampas semua harta si Pemuda, karena pemuda itu bermimpi memberikan mahar untuk menikah dengan anak hakim istana. Raja lalu memanggil pemuda itu dan menanyakan kebenarannya.
“Semua yang dikatakan Abu Nawas benar, Raja. Aku kehilangan semua hartaku karena itu. Kini, aku menjadi seorang gelandangan,” ucap si Pemuda.
Hakim istana terlihat pucat. Ia ketakutan dan kemudian mengakui perbuatannya. Raja pun memecat Hakim istana. Selama ini ia telah salah memilih seorang hakim. Harta pemuda itu akhirnya kembali. Abu Nawas sangat senang karena bisa menolong orang yang kesulitan.
Demikian cerita Abu Nawas. Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran, jangan pernah melakukan hal yang semena-mena, walaupun ketika kita memiliki kedudukan atau tidak. Menjadi seorang pejabat harus lah bersikap adil dan mengayomi masyarakatnya.
Rendra Aditya
















