Nasional – Ada banyak cerita kecerdikan Abu Nawas. Walaupun cerita itu sudah ada sejak lama, namun sampai sekarang hikmahnya masih berlaku.
Abu Nawas digambarkan sebagai sosok yang cerdik. Bisa dikatakan dia bukan lah sosok yang curang, namun kebanyakan orang tidak teliti memahami jalan berpikirnya.
Salah satunya cerita Abu Nawas yang mau terbang. Cerita ini mengajarkan kita agar tidak menjadi korban hoax.
Kisahnya, pada suatu ketika tersiar kabar Abu Nawas mau terbang. Gegerlah penduduk negeri karena kabar ini.
Diantara penduduk pun ribut. Ada yang percaya dengan ucapan Abu Nawas namun ada juga yang tidak percaya. Dua kubu ini beradu pendapat bahkan sampai berdebat sengit.
Kabar Abu Nawas mau terbang ini juga sampai ke telinga raja. Selain itu raja juga tahu penduduknya banyak yang bersilang pendapat karena kabar ini.
Raja khawatir kabar ini akan membuat suasana negerinya tidak kondusif. Akhirnya untuk memastikan kabar tersebut, raja memerintahkan anak buahnya memanggil Abu Nawas.
Tidak ada beban atau pun rasa takut, Abu Nawas memenuhi panggilan raja. “Abu Nawas apa benar kabar yang beredar di masyarakat jika kamu mau terbang,” tanya raja.
Seketika langsung dijawab Abu Nawas. “Iya raja, saya mau terbang,” ucap Abu Nawas dengan percaya diri.
“Kapan dan di mana kamu mau terbang,” raja kembali bertanya.
“Jumat siang di menara mesjid,” jawab Abu Nawas.
“Baik lah kalau begitu. Tetapi kalau sampai kamu berbohong, maka kamu akan dihukum. Kamu tahu kan hukuman bagi pembohong. Bisa dihukum gantung,” kata raja dengan nada tegas.
“Iya paduka raja. Saya tahu hukuman itu. Silakan nanti raja melihat sendiri saya mau terbang,” lanjut Abu Nawas sembari pamit undur diri.
Pembicaraan Abu Nawas dengan raja ini juga tersebar di masyarakat. Penduduk tambah heboh. Sebagian penduduk yakin Abu Nawas akan dihukum gantung, karena tidak mungkin dia bisa terbang.
Tibalah hari yang dijanjikan Abu Nawas. Sejak pagi di sekitar mesjid sudah disesaki penduduk. Mereka ingin menyaksikan kebenaran ucapan Abu Nawas.
Sementara Abu Nawas belum sampai, masyarakat semakin bertambah banyak dan gelisah menunggu Abu Nawas.
Akhirnya Abu Nawas tiba di mesjid. Sorak meriah langsung terjadi. Ada diantaranya yang mengejek Abu Nawas dan mengingatkan dia hukuman gantung yang menunggunya.
Namun Abu Nawas tidak menghiraukan ejekan itu. Dia tetap berjalan percaya diri. Satu per satu anak tangga menara mesjid dinaiki Abu Nawas.
Sampai akhirnya dia tiba di atas menara. Dia kemudian keluar dari menara dengan sikap mengambil posisi seperti orang mau terbang. Penduduk yang di bawah menunggu sambil terdiam.
Mereka mengira akan segera menyaksikan pemandangan yang mengerikan, melihat orang terjatuh dari menara mesjid. Pasti akan meninggal dunia, karena menaranya sangat tinggi.
Beberapa kali Abu Nawas mengepakan kedua tangannya seolah-olah mau terbang. Namun lama orang di bawah menunggu, Abu Nawas tidak kunjung terbang.
Akhirnya ada yang berteriak dari bawah. “Ayo Abu Nawas, cepat lah terbang. Kami ingin melihatnya,” teriak salah seorang di bawah menara.
Mendengar teriakan itu, Abu Nawas berhenti memeragakan seperti mau terbang. Dia pun menjawab. “Adakah kalian yang di bawah melihat saya mau terbang?,” tanya Abu Nawas.
Seketika orang di bawah menjawab “Iya ayo terbang Abu Nawas. Atau kamu telah membohongi kami,” jawab penduduk.
Sambil tersenyum Abu Nawas menjawab “Siapa yang berbohong? Saya kan mengatakan mau terbang. Saya tidak mengatakan terbang. Tadi kalian semua sudah menjawab melihat saya mau terbang. Berarti saya tidak berbohong,” jawan Abu Nawas.
Seketika suasana menjadi riuh. Mereka semuanya kecewa. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ucapan Abu Nawas memang benar. Abu Nawas mengatakan mau terbang, bukan terbang.
Akhirnya kerumunan itu membubarkan diri. Abu Nawas pun turun dari menara dan lolos dari hukuman. Karena sebenarnya dia tidak pernah berbohong.
Demikian cerita tentang Abu Nawas. Hikmahnya ketika kita mendapat informasi, jangan langsung dipercaya 100 persen, namun harus ditelusuri terlebih dahulu agar tidak salah menafsirkan informasi yang didapati.
Rendra Aditya

















