Rejang Lebong – Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri dan menjalani tugas kepolisian. Aiptu Sae Amri menemukan ketenangan dalam peran lain, yaitu sebagai petani kopi.
Di balik seragam cokelat kebanggaannya sebagai anggota Polres Rejang Lebong, ia adalah sosok yang berdedikasi menanam kebaikan, baik di lingkungan tugasnya maupun di kebun kopinya.
Mendapat penugasan yang yang jauh dari kampung halamannya di Semarang, Jawa Tengah, Sae Amri harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Gajinya yang pas-pasan saat awal penugasan di tahun 2001 hanya Rp800.000, mendorongnya mencari penghasilan tambahan. Keterbatasan ini memotivasinya untuk berkebun kopi.
Kebun kopi milik Aiptu Sae Amri berada di Desa Sinar Gunung dan Desa Warung Pojok, Kecamatan Sindang Dataran, Rejang Lebong.
Nama Aiptu Sae Amri dikenal bukan hanya sebagai penegak hukum yang berwibawa, tetapi juga sebagai mentor dan sumber inspirasi bagi para petani kopi.
Ia membuktikan bahwa profesi polisi dan petani dapat berjalan se iringan.
Kebun kopinya bukan sekadar ladang mencari nafkah, tetapi juga dibuat sebagai pusat edukasi dan tempat berbagi ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan dari Ladang ke Seragam
Sejak kecil, Sae Amri sudah terbiasa dengan dunia pertanian. Meskipun memilih karier sebagai polisi, kecintaannya pada tanah dan tanaman tidak pernah pudar.
Setiap kali selesai bertugas, ia selalu kembali ke kebun kopi yang telah menjadi passionnya.
Awalnya, ia menanam kopi dengan cara tradisional, mengikuti metode warisan pendahulunya.
Namun, Sae Amri terus mencari pengetahuan baru. Ia belajar berbagai teknik modern, mulai dari pemilihan bibit unggul, pemangkasan, pemupukan, hingga penanganan hama.
Pengetahuan ini kemudian ia bagikan secara cuma-cuma kepada para petani di sekitarnya. Kebun kopi Sae Amri menjadi kelas lapangan yang selalu ramai dikunjungi petani desa.
Mereka datang untuk belajar cara merawat tanaman agar panen lebih optimal.
“Banyak dari kita masih menggunakan cara lama. Padahal, dengan sedikit sentuhan dan ilmu yang tepat, hasilnya bisa jauh lebih baik,” ujar Sae Amri sambil mempraktikkan cara memangkas yang benar.
Ia juga menekankan pentingnya perawatan pasca-panen, karena kualitas biji kopi adalah kunci untuk meningkatkan harga jual.
Berkat bimbingannya, banyak petani di Sindang Dataran mengalami peningkatan signifikan pada hasil panen dan pendapatan mereka.

Menanam Kebaikan, Memanen Kesejahteraan
Selain menjadi pusat edukasi, kebun kopi Sae Amri juga membuka lapangan pekerjaan. Ia mempekerjakan puluhan warga untuk berbagai tugas, mulai dari perawatan hingga panen.
Ia tidak hanya memberikan upah yang layak, tetapi juga memperlakukan mereka seperti keluarga.
“Pak Sae itu beda dari yang lain. Beliau memperlakukan kami seperti keluarga,” kata Endang, salah satu pekerjanya.
“Kami tidak hanya dibayar, tapi juga diajari. Beliau sering bilang, ‘Ilmu itu lebih berharga dari uang,” tambah Endang.
Pendekatan humanis ini menciptakan lingkungan kerja yang positif, di mana para pekerja merasa dihargai dan termotivasi untuk terus belajar.
Mereka yang awalnya hanya buruh serabutan kini memiliki keterampilan yang bisa mereka terapkan di kebun sendiri.
Bagi Sae Amri, tugasnya sebagai polisi dan petani memiliki satu tujuan yang sama: mengabdi kepada masyarakat. Jika sebagai polisi ia menjaga keamanan, maka sebagai petani ia menebarkan ilmu, menciptakan lapangan kerja, dan menyejahterakan sesama.
“Tugas saya sebagai polisi adalah melayani masyarakat. Begitu juga di kebun ini,” ucapnya sambil tersenyum. Kepuasan terbesar saya bukan dari panen melimpah, tapi saat melihat para petani lain berhasil, atau ketika pekerja saya bisa membawa rezeki untuk keluarga mereka,” ungkap Sae.
Kisah Sae Amri adalah bukti bahwa pengabdian dapat dilakukan di mana saja. Di balik seragam formalnya, ia menemukan cara untuk menanam kebaikan, seperti benih kopi yang ia tanam di tanah Rejang Lebong.
Dan di tangan Aiptu Sae Amri, benih-benih itu tumbuh subur, menghasilkan tidak hanya biji kopi, tetapi juga senyum, harapan, dan kesejahteraan bagi banyak orang.
(Handril)

















