Nasional – Presiden Soekarno begitu fenomena. Sosoknya tidak hanya terkenal di Indonesia, namun sudah menjadi bagian dari catatan sejarah dunia.
Selama ini berbagai cerita yang beredar tentang Soekarno kebanyakan tentang perjuangannya dalam mencari kemerdekaan untuk Indonesia. Namun cerita tentang Soekarno tidak hanya sebatas perjuangan.
Ada banyak cerita lain seperti untuk urusan asrama. Dalam catatan Cindy Adam, sejarawan sekaligus wartawan senior asal Amerika Serikat, ternyata Presiden Soekarno pernah mengalami satu kejadian yang sangat menyakitkan hati.
Dia pernah dibentak dan diusir. Walaupun mencoba memberikan penjelasan, namun ketika itu Soekarno tidak punya pilihan lain selain berlalu pergi dengan rasa sakit hati yang begitu mendalam.
Cindy Adam menuturkan, ketika remaja dan masih berstatus pelajar HBS (Hogere Burgerlijk School), Soekarno pernah memiliki kekasih bule Belanda bernama Mien Hessels.
Saat itu Soekarno biasa memanggil Mien dengan panggilan sayangnya yakni Mientje.
Anak semata wayang Rd. Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai ini begitu sayang pada kekasihnya, Mientje. Saking cinta pada Mientje Soekarno pernah nekat pergi apel ke rumahnya.
Namun ketika Soekarno sampai di teras depan rumah Mientje, sang ayah berkulit putih itu langsung menghadangnya. Ia mengusir Soekarno dengan kejam, membentak dan melotot.
Mendengar kegaduhan antara Soekarno dan sang ayah membuat Mientje keluar dari kamar tidur.
Ia menangis dan membentak balik sang ayah, namun Mientje tak bisa berbuat lebih. Para jongos ayah Mientje telah menyeret Soekarno keluar gerbang rumah.
Dari peristiwa ini Soekarno sungguh sakit hati. Meskipun ia sama-sama bersekolah di HBS tetapi kedudukan Mientje dengannya tak bisa sama.
Ada pembatas yang menyebabkan mereka berbeda: stratifikasi kolonial (Eropa, Timur Asing, dan Pribumi alias Inlanders).
Setelah kejadian itu Mientje putus hubungan dengan Soekarno. Teman-teman lain mengetahui ini setelah Soekarno membeberkan semua perilaku ayahnya yang sombong di sekolah. Hal ini membuat Mientje malu dan putus asa saat bergaul dengan teman-teman.
Awal Pertemuan Pertama Soekarno dengan Kekasih Bule
Menurut Walentina W. De Jonge dalam buku berjudul, “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen” (2013), awal kali pertemuan Mientje dengan Soekarno terjadi ketika mereka berdua berstatus menjadi pelajar di HBS Surabaya.
Sukarno yang saat itu berasal dari keturunan ningrat punya kesempatan belajar dan berstatus menjadi siswa HBS.
Sedangkan Mientje sudah jelas bisa sekolah di sana. Sebab ayah Mientje adalah pejabat Belanda yang terhormat di Surabaya. Jabatan terakhir sang ayah adalah administrator perkebunan tebu di afdeling Jawa Timur.
Mientje terkenal sebagai anak yang periang, setiap hari selalu tersenyum dan menyapa teman-teman Inlanders termasuk Soekarno.
Kebiasaan menyapa Hallo! Pada Soekarno membuat Putera Sang Fajar jatuh hati padanya.
Begitu juga dengan Mientje, bagaikan anak-anak yang sedang dirundung “cinta monyet”, Mientje terjebak oleh bujuk rayu manis Soekarno agar jadi kekasih hatinya.
Mientje dan Soekarno sering berjalan bersama, kadang pergi ke taman kota dan perpustakaan. Mereka belajar berdua juga bersama teman-teman HBS lainnya.
Salah seorang guru HBS bernama Meneer Both bahkan sudah tahu mereka berpacaran.
Wanita Belanda Peduli Kaum Disabilitas
Sejak menjadi siswa di HBS, Mientje terkenal sebagai wanita Belanda yang punya jiwa sosial tinggi dan baik hati.
Mintje kerap menolong teman-teman yang sedang mengalami kesusahan, terutama kesulitan dalam hal finansial.
Karena Mientje anak orang kaya, secara tidak sadar ayahnya sering dimintai uang. Sang ayah yang terkenal tamak itu memberi permintaan Mientje tanpa menanyakan terlebih dahulu untuk apa uang tersebut.
Dari uang itulah Mientje menolong teman-teman yang sedang menghadapi persoalan finansial. Itu masih berstatus jadi siswa HBS, apalagi setelah ia lulus dan aktif dalam gerakan sosial di Surabaya.
Kekasih bule Soekarno itu menjadi pelopor pembangunan yayasan penolong orang-orang pribumi. Ia pernah mendirikan JPAT (Jajasan Pertolongan Kepada Anak Tjatjat) di Surabaya.
Namun ketika Perang Dunia II melanda Hindia Belanda, kepengurusan JPAT diambil alih oleh aktivis sosial pribumi. Selama situasi ini berlangsung Mientje pulang ke negeri asalnya yaitu Belanda.
JPAT berhasil menolong orang-orang penyandang disabilitas, bahkan pernah digunakan oleh para gerilyawan untuk merawat korban perang.
Selayaknya yayasan kemanusiaan, JPAT merawat seluruh pasien dan penghuni tetapnya dengan sepenuh hati.
Di Surabaya Bertemu Kembali dengan Soekarno
Puluhan tahun di Belanda, Mientje pada suatu kesempatan di tahun 1950 pulang ke Surabaya. Tak disangka kepulangan Mientje pas sekali dengan kedatangan rombongan iring-iring Presiden Soekarno ke Surabaya.
Mientje yang dahulu kekasih Putera Sang Fajar spontan menghadang iring-iringan Soekarno, namun tercegah oleh protokol pengamanan presiden yang ketat.
Namun sepertinya Dewi Fortuna sedang berada di pihak Mientje, Soekarno sekelebat melihat wanita tersebut dan berhenti. Ia teringat pada wajah seseorang yang dahulu pernah singgah di hatinya.
Ketika turun dari mobil dan menghampiri Mientje, Soekarno berkata: “Huh, Mien Hessels! Mientje, putriku yang cantik seperti bidadari sudah berubah jadi perempuan seperti tukang sihir”.
Mendengar pernyataan ini dalam bahasa Belanda yang fasih membuat Mientje sakit hati. Namun ia tak membawa perasaan atas kejadian tersebut, Mientje introspreksi diri, mungkin dahulu Soekarno juga sama sakit hatinya saat sang ayah mengusir paksa dari depan rumah Mientje.
Tak sampai di situ saja, Soekarno menambahkan kata-kata yang menyakitkan untuk Mientje sebagai berikut “Tak pernah aku melihat perempuan buruk dan kotor seperti itu”.
Namun setelah Soekarno sadar jika pernyataan itu membuat Mientje sakit hati, sang presiden pertama RI ini lekas meminta maaf pada Mientje melalui surat.
Selain itu Soekarno juga memuat tulisan pada Cindy Adam agar menerbitkan sebuah buku yang bisa meredakan amarah Mientje saat Soekarno ejek dengan sebutan wanita buruk.
Sayang beribu sayang, hingga keduanya wafat, Soekarno tidak bisa memperbaiki tali silaturahmi dengan Mientje. Cindy Adam menyebut ini sebagai pelajaran moral yang penting dan penuh dengan makna fana kehidupan.
Putri Nurhidayati

















