Sehingga beberapa di antaranya mengalami perubahan warna mencolok menjadi merah, kuning, dan oranye karena terdorong ke permukaan serta berinteraksi dengan air dan mineral dari lapisan batuan lain.
Tak hanya berdasarkan penjelasan NASA, namun berdasarkan studi sebelumnya yang menemukan jika pulau ini ternyata juga memiliki cadangan besi yang cukup melimpah.
UK Met Office, menjelaskan bahwa fenomena blood rain secara umum terjadi ketika hujan membawa serta debu atau pasir berwarna kemerahan.
Namun, untuk kejadian di Pulau Hormuz lebih disebabkan oleh tanah merah yang kaya akan besi teroksidasi yang larut dan terbawa oleh air hujan hingga ke pantai.
Akan tetapi, menariknya tanah merah yang terdapat di Pulau Hormuz ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai budaya.
Bahkan, masyarakat lokal menyebutnya sebagai gelak dan kerap menggunakannya sebagai campuran bumbu dalam makanan, seperti roti khas bernama tomshi meski para ilmuwan memperingatkan bahwa konsumsi tanah tersebut secara rutin bisa berbahaya karena kandungan logam berat di dalamnya.

















