<strong>Nasional</strong> - Fenomena alam aneh yang terjadi akan selalu memiliki daya tarik sendiri bagi manusia. Hal ini tentunya karena menantang pemahaman manusia tentang bagaimana dunia bekerja dalam hal-hal yang tidak masuk logika bagi manusia. Manusia umumnya akan mempercayai sains mengenai hal yang terjadi di muka bumi. Namun di sisi lain juga sadar bahwa pengetahuan manusia masih terbatas. Sehingga akan sangat wajar jika manusia kerap merasa tidak percaya akan hal-hal yang tidak masuk akal terjadi di dunia. Mulai dari pengalaman pribadi, hingga ada yang mengutip teori ilmiah, dan ada pula yang mengajak berpikir dari sudut pandang berbeda. Namun semua pendapat ini membuat pembahasannya semakin hidup. <strong>Fenomena Aneh Dunia di Penjuru Dunia</strong> <strong>Pantai Berdarah di Iran</strong> Baru-baru ini, media sosial tengah diramaikan dengan fenomena aneh, yakni air hujan berwarna merah pekat yang tampak mengalir dari tebing menuju bibir pantai di Pulau Hormuz, Iran. Dari video yang tengah beredar, air hujan berwarna merah pekat tampak mengalir dari tebing menuju ke bibir pantai.<!--nextpage--> Lalu menyatu dengan ombak hingga garis pantai tampak seolah-olah berubah warna menjadi merah seperti berdarah. Meskipun video yang tengah beredar tesebut sangat memukau, namun hal ini menguncang banyak komentar dari netizen. Dari banyaknya unggahan mengenai fenomena ini, tidak sedikit netizen yang penasaran dan mempertanyakam apa sebenarnya penyebab dari fenomena menakjubkan ini? <strong>Penyebab Hujan Darah di Pulau Hormuz</strong> Melansir dari The Independent, penjelasan ilmiah mengenai fenomena yang disebut "blood rain" itu diuraikan oleh NASA Earth Observatory. Berdasarkan penjelasannya, Pulau Hormuz merupakan kubah garam yang kaya akan mineral yang terdiri atas garam batu, gipsum, anhidrit, dan material evaporit lainnya yang terdorong ke atas menembus lapisan batuan di atasnya. Garam batu atau halit bersifat lemah dan mengapung, sehingga kehilangan kerapuhannya dan mengalir seperti cairan ketika berada di bawah tekanan tinggi. Namun, massa yang muncul di permukaan di pulau ini bukan hanya garam saja. Di dalamnya juga terdapat lapisan tanah liat, karbonat, serpih, dan batuan vulkanik yang kaya akan kandungan besi.<!--nextpage--> Sehingga beberapa di antaranya mengalami perubahan warna mencolok menjadi merah, kuning, dan oranye karena terdorong ke permukaan serta berinteraksi dengan air dan mineral dari lapisan batuan lain. Tak hanya berdasarkan penjelasan NASA, namun berdasarkan studi sebelumnya yang menemukan jika pulau ini ternyata juga memiliki cadangan besi yang cukup melimpah. UK Met Office, menjelaskan bahwa fenomena blood rain secara umum terjadi ketika hujan membawa serta debu atau pasir berwarna kemerahan. Namun, untuk kejadian di Pulau Hormuz lebih disebabkan oleh tanah merah yang kaya akan besi teroksidasi yang larut dan terbawa oleh air hujan hingga ke pantai. Akan tetapi, menariknya tanah merah yang terdapat di Pulau Hormuz ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai budaya. Bahkan, masyarakat lokal menyebutnya sebagai gelak dan kerap menggunakannya sebagai campuran bumbu dalam makanan, seperti roti khas bernama tomshi meski para ilmuwan memperingatkan bahwa konsumsi tanah tersebut secara rutin bisa berbahaya karena kandungan logam berat di dalamnya.<!--nextpage--> <strong>(Putri Nurhidayati)</strong>