“Jadi memang untuk seluruh pekerja itu disediakan satu ponsel untuk menghubungi keluarga pada malam hari. Menelpon keluarga dibatasi menggunakan ponsel bergantian,” katanya.
Tempuh Waktu 6 Jam Menuju KBRI
Selain menjadi korban penyiksaan, empat warga Kota Bengkulu ini kekurangan makan, sehingga berhasil melarikan diri ke KBRI Phnom Penh.
Berbekal Ponsel tersebut keempat warga Kota Bengkulu ini melarikan diri ke KBRI di Phnom Penh.
“Mereka bawa ponsel perusahaan, menyewa mobil ke KBRI di Phnom Penh. Jarak tempuh 6 jam perjalanan dari tempat mereka bekerja ke KBRI,” kata Yuli berdasar cerita suaminya.
Setiba di KBRI, mereka kembali menghubungi keluarga agar bisa mengirimkan uang Rp 1,6 juta untuk membayar ongkos taksi selama pelarian.

Saat ini keempat warga tersebut masih berada di KBRI di Phnom Penh berharap pulang ke Bengkulu.
Yuli berharap Gubernur Bengkulu dan Walikota mengharapkan suaminya bisa pulang dan kembali ke Bengkulu.
“Kami berharap Pak Gubernur dan Wali Kota bisa membantu kepulangan suami kami,” kata para istri.
Ketua DPD Garda Relawan Indonesia Semesta (GARIS) Provinsi Bengkulu, Iman SP Noya selaku pendamping keluarga korban mengatakan sejauh ini pihaknya terus berkomunikasi dengan Kementerian dan Gubernur Bengkulu untuk membantu percepatan kepulangan empat warga Kota Bengkulu.
“Dengan Kementerian kami sudah berkoordinasi, dengan pak Gubernur juga sudah saya minta petunjuk. Kami berharap keempat warga Kota Bengkulu itu secepatnya pulang,” tutup Iman.
(Rendra Aditya)

















