Sementara dilansir dari sumber yang berbeda, bahwasanya tempayan kubur ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai wadah, akan tetapi juga bentuk yang mencerminkan warisan dari zaman megalitikum. Yang mana pada masa itu batu besar sering digunakan sebagai bahan konstruksi.
Bentuk tempayan ini tidak hanya sekadar estetika, namun juga menggambarkan keberlanjutan tradisi megalitikum.
Seperti yang disebutkan diatas, bahwa pada masa kebudayaan megalitikum, pemakaman terbagi menjadi 2 yakni pemakaman primer dan sekunder.
Dilansir dari sumber terpercaya, bahwa dalam metode pertama, jenazah dikubur hingga mengalami transformasi menjadi tulang, yang kemudian ditempatkan dengan cermat di dalam tempayan kubur.
Jadi, dalam proses ini tidak hanya praktis, namun juga memperkuat keterhubungan dengan alam dan siklus kehidupan.
Sedangkan untuk metode kedua, yakni penguburan langsung di lingkungan tanah memberikan kesan lebih organik dan terhubung erat dengan alam sekitar.
Dalam metode ini tanpa menggunakan peti kubur, jenazah dimakamkan dan kemudian ditutup dengan tanah, menciptakan siklus alamiah dari hidup ke mati.

















