Pasca kejadian, korban mengalami trauma berat dan menunjukkan perubahan sikap yang signifikan, korban menjadi tertutup dan merasa takut berlebihan.
Korban disebut tidak mau bertemu dengan teman-temannya, termasuk kakak kelas di sekolah, bahkan korban hanya bersedia ditemui oleh ibunya.
Bahkan, setiap kali mendengar ada teman sekolah yang hendak berkunjung ke rumah, korban langsung merasa ketakutan dan menolak untuk bertemu.
“Anak saya sekarang benar-benar trauma. Dia tidak mau lagi bersekolah di sekolah itu karena takut. Saya khawatir anak saya mengalami stres berkepanjangan,” kata MY.
Keluarga Minta Perhatian Pemerintah
Atas kondisi tersebut, MY berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak berwenang terkait dugaan pengeroyokan siswa SMA Bengkulu ini.
Ia meminta agar anaknya mendapatkan pendampingan psikologis demi pemulihan mental.
“Saya mohon kepada yang berwenang, Pak Wali Kota, Pak Gubernur, agar bisa membantu melakukan pendampingan terhadap anak kami,” ujar MY.
Dugaan Pemicu Perkelahian
Berdasarkan kronologi yang disampaikan keluarga, peristiwa ini berawal dari hubungan pertemanan korban dengan dua siswa lain berinisial C dan S.

















