Awalnya sempat terjadi perselisihan antara korban dan S.
Korban kemudian menceritakan permasalahan tersebut kepada kakak kelasnya.
Namun, pada keesokan harinya, korban dan S telah berdamai dan kembali berinteraksi seperti biasa.
Situasi tersebut memicu rasa kesal dari kakak kelas yang sebelumnya mendengar cerita korban.
Permasalahan kemudian berlanjut ke media sosial, korban mengunggah foto kebersamaan bersama teman-temannya di akun Instagram.
Unggahan tersebut kemudian dikomentari oleh kakak kelas korban dengan kalimat bernada ejekan.
Korban membalas komentar tersebut dengan maksud bercanda, namun interaksi tersebut berujung pada adu argumen melalui pesan langsung atau direct message (DM) Instagram.
Adu argumen ini diduga menjadi pemicu utama dugaan pengeroyokan siswa SMA Bengkulu tersebut.
Setelah cekcok di media sosial, terduga pelaku sempat mengajak korban untuk bertemu di luar sekolah.
Ajakan tersebut ditolak oleh korban selanjutnya korban diminta bertemu di depan ruang kelasnya.
Berdasarkan rekaman CCTV dan video yang beredar di kalangan keluarga, di lokasi tersebut terjadi adu mulut yang berlangsung cukup lama hingga suasana memanas.

















